Senin, 21 Mei 2012

RACUN PRAGMATISME DI TENGAH REIDEOLOGISASI ISLAM


Oleh: Sayyidah Najwa
Desember 2011

MUQODDIMAH
Saudaraku, Indonesia, bumi dimana Allah mengamanahkannya kepada kita ini sungguh adalah Madiinah ats-tsaniiy, baik secara demografis, geopolitis, maupun potensi ekonomi. Hendaknya kita kembali mengingat firman Allah SwT:
تُكَذِّبَانِ رَبِّكُمَا ءَالَآءِ فَبِأَىِّ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (TQS.Ar-Rahman: 13)
Dakwah pada majal ini benar-benar menjadi salah satu tumpuan bagi kebangkitan umat. Jika di wilayah-wilayah lain pejuang Islam diuji dengan pemenjaraan, penyiksaan dan tekanan, maka sesungguhnya hal tsb tidak terjadi pada diri kita. Namun tak dapat dipungkiri bahwa dakwah ini berjalan bukan tanpa tantangan dan kesulitan. Sebagaimana telah disebutkan oleh sang revolusioner, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab at-Takattul al-Hizbiy, terdapat banyak kesulitan yang menghambat interaksi partai dengan umat, diantaranya adalah adanya orang-orang yang bersikap realistis/pragmatis (al-waqi’iyyin) di tengah-tengah umat. Orang-orang ini terlahir dari rahim sistem sekuler yang telah sekian lama membelai mereka dengan tsaqofah asing, menyusui mereka dengan racun-racun asing, serta mendekap mereka dengan kebodohan yang berkepanjangan. Astaghfirullah…. Lalu bagaimana mungkin partai mampu menjernihkan fikrah umat dan menghiasinya dengan ideologi Islam sebelum dirinya benar-benar lepas dari penjara asing tsb?! Untuk itulah, penting kiranya kita mewaspadai segala kemungkinan yang dapat melemahkan dakwah serta berlepas diri dari apa-apa yang berasal dari ideologi setan dengan segala topengnya!!

MEMBEDAH PRAGMATISME
Secara historis, pada abad XVII, perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677), dan Pascal (1623-1662), serta aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-1704). Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal), sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri, atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda, yaitu Positivisme, Materialisme, dan Pragmatisme. Pada masa ini, Pragmatisme-lah yang tengah menggurita menjadi racun mematikan bagi upaya pengembanan ideologi Islam.
Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani pragma berarti perbuatan (action) atau tindakan (practise). Isme berarti ajaran, aliran, atau paham. Dengan demikian, Pragmatisme berarti ajaran/aliran/paham yang menekankan bahwa pemikiran itu mengikuti tindakan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pragmatisme berarti kepercayaan bahwa kebenaran atau nilai suatu ajaran (paham/doktrin/dalil/gagasan/dsb) bergantung pada penerapannya bagi kepentingan manusia. Sedangkan pragmatis berarti bersifat praktis dan berguna bagi umum, bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan), mengenai/bersangkutan dengan nilai-nilai praktis. Karena itu, Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah faedah atau manfaat. Suatu teori atau hipotesis dianggap benar oleh Pragmatisme jika membawa suatu hasil. Ide ini merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang terjadi pada awal abad XIX.
Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).  Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme, yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. Dengan demikian, dalam konteks ideologis, Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan.

PRAGMATISME VS DAKWAH ISLAM IDEOLOGIS
Pragmatisme ternyata adalah anak kandung qaidah fikriyyah Kapitalisme-Sekuler. Lalu bagaimana mungkin ia menjangkiti pengemban ideologi Islam?
Proses kemunduran kaum muslimin yang terjadi selama berabad-abad menjadikan Islam adalah sesuatu dan kaum muslimin adalah sesuatu yang lain. Kaum muslimin terpisah dari Islam seperti seorang anak kehilangan ibunya, tidak tahu arah dan tidak punya teladan, sehingga mereka berpikir dengan cara orang lain berpikir. Bahkan saat mereka berusaha lepas dari belenggu penjajahan, mereka mengambil pisau dari tangan penjajah itu sendiri sebagai solusi. Sementara pengemban dakwah adalah bagian dari mereka, berasal dari mereka, mengalami masa lalu yang persis dengan mereka. Oleh karena itu bukanlah hal yang mudah bagi pengemban dakwah untuk melepaskan diri selepas-lepasnya dari ide-ide asing tersebut. Dia harus benar-benar mengkaji secara mendalam kemudian mengkontekstualisasikannya hingga memahami mana karakter dakwah yang shahih dan mana yang batil.
Bila kita bercermin dari fenomena keterjebakan aktivis dakwah sekuleris-pragmatis, dakwah mereka adalah dakwah yang menyadari kerusakan fakta yang ada dalam kehidupan umat, menyadari pula kewajiban untuk merubahnya, tetapi dakwahnya langsung berpindah kepada langkah aksi tanpa terlebih dahulu memikirkan hakikat permasalahan yang tengah menimpa masyarakat. Langkah aksi itu dilakukan tanpa memikirkan konsep yang akan dijadikan asas dalam membangkitkan. Akhirnya gerakan itu akan melakukan aksi-aksi tanpa perencanaan dan berputar-putar disitu-situ saja tanpa dikaji lebih dahulu bahkan seringkali tanpa sasaran sama sekali.
Misalnya suatu organisasi dibentuk untuk membangkitkan Islam. Namun tujuan itu dibuat tidak dengan metode yang jelas untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan. Maka virus Pragmatisme mudah sekali menjangkiti aktivis dakwah dalam organisasi ini. Sehingga tujuan untuk membangkitkan Islam ini sering berhenti jika organisasi ini berhasil membangun sekolah, rumah sakit, dll. Dibangunnya sekolah, rumah sakit, dll itu dianggap telah berhasil membangkitkan Islam, padahal rumah sakit, sekolah, dll yang dibuat tersebut tetap harus mematuhi peraturan pemerintah yang tidak berasas Islam. Akibatnya institusi-institusi yang dibangun tadi sama sekali tidak mencerminkan kebangkitan Islam, Islam hanya menjadi simbol semata, sementara sistem yang dijalankan tetap harus tunduk di bawah pemerintahan yang tidak berlandaskan Islam. Sehingga ketika aktivis dakwah masuk ke dalam pemerintahan maka aktivis dakwah itu akan menjalankan sistem kufur. Fungsi yang haram, seperti pembuatan hukum yang terjadi di legislatif dianggap sebagai jalan perjuangan, padahal hukum yang dibuat tidak berlandaskan Al-Qur’an & As-Sunnah tapi berlandaskan undang-undang buatan manusia. Aktivis dakwah ini puas dan merasa berhasil ketika berhasil melegislasi hukum yang ‘sedikit’ islami. Padahal melegislasi hukum seperti ini justru mengaburkan pemahaman umat, umat merasa puas dengan kondisi seperti ini sehingga kebaikan yang sedikit pada UU yang dilegislasi itu hanya akan mengokohkan sistem kufur yang berjalan, karena umat akan menyangka sistem ini bagus dan masih layak dipertahankan. Itu sekelumit realita ekstrim yang menimpa organisasi yang memang melandaskan dakwahnya pada metode sekuler.
Lalu bagaimana dengan jama’ah dakwah ideologis? Selamatkah ia dari racun Pragmatisme? Sudahkah ia mencapai kegemilangan gerak sehingga menghantarkan umat pada kebangkitan hakiki?
Saya ingin sekedar mengajak ukhtifillah rohimakumullah untuk mencermati kembali apa yang pernah kita kaji dalam kitab at-Takattul al-Hizbiy, bahwa penyebab gagalnya gerakan kebangkitan ditinjau dari aspek keorganisasian dapat dikembalikan pada 4 hal:
1.       Gerakan yang berdiri di atas dasar fikrah yang kabur.
2.       Gerakan yang tidak mengetahui thariqah yang jelas.
3.       Gerakan yang bertumpu pada orang-orang yang belum sepenuhnya mempunyai kesadaran yang benar, belum mempunyai niat dan irodah yang shohih, bahkan hanya berbekal keinginan dan semangat belaka (maknawiyah).
4.       Gerakan yang tidak mempunyai robithoh yang benar di tengah orang-orangnya. 

      Pragmatisme dalam tubuh Hizbun mabda’iy dapat muncul dari orang-orang yang kesadarannya belum jernih terkait fikrah, thariqah, dan robithoh Hizb, mereka yang belum memahami ketiganya secara komprehensif dan belum mampu mengkontekstualisasikannya secara sempurna.  

MEMBUANG RACUN PRAGMATISME
Upaya mengembalikan ideologi Islam ke tengah-tengah umat mustahil akan terealisasi jika dalam tubuh kutlah bercampur pemikiran dua ideologi, Islam dan Kapitalisme. Ibarat menuangkan air bersih ke dalam bejana berkarat, ketika air itu diminum oleh seseorang, justru ia akan terkena racun karat tersebut.
Pengemban mabda’ Kapitalisme bangkit (meski dengan kebangkitan yang batil) dengan mengambil Pragmatisme secara totalitas, karena memang itulah bagian dari fikrahnya. Namun apa jadinya jika pengemban mabda’ Islam mencuil Pragmatisme yang jelas-jelas bukan bagian dari fikrahnya? Mustahil ia akan bangkit, apalagi membangkitkan umat. Yang ada justru ia akan semakin terpuruk dan terjerembab dalam jurang kegamangan. Dampak lebih jauh lagi, orang-orang semacam itu akan mengancam eksistensi Hizbun mabda’iy, mengotori perjuangannya, dan menghambat tercapainya tujuan Hizb.
Dalam nasyrah Dukhul Mujtama’ disebutkan bahwa setiap kesalahan Hizbiyyin --meskipun tidak disengaja-- dalam usaha (mengeluarkan pendapat-pen) untuk melaksanakan semua jenis pemikiran, baik menyangkut fikrah, thariqah, ataupun uslub yang dipilih dan ditentukannya, dapat dianggap sebagai kesalahan yang berbahaya. Apabila dilakukan dengan sengaja dan terus menerus, maka dapat dianggap sebagai bentuk penyelewengan yang disengaja. Pada marhalah tafaul, Hizb akan dihadapkan kepada penyimpangan terhadap pandangan-pandangannya, dan banyaknya usulan serta nasehat yang berasal dari syabab maupun masyarakat, terutama ketika Hizb berdiri lama di depan pintu masyarakat, dan tidak kunjung berhasil memasukinya dengan mudah dan cepat. Kadang-kadang realitas parpol sekuler dijadikan bukti bagaimana partai-partai tersebut mampu masuk dan mengambil kendali langsung mengalahkan Hizb. Adakalanya faktor yang memacu semuanya itu adalah keikhlasan syabab kepada Hizb, dan ada juga sebagian yang didorong oleh desakan kuat dari luar Hizb yang telah mempengaruhi banyak kalangan. Oleh karena itu akan muncul banyak usulan seputar uslub supaya diganti dengan sarana yang lebih kuat dan lebih diperlukan, tanpa memperhatikan lagi apakah uslub itu bertentangan atau tidak dengan pemikiran yang dipilih dan ditentukan oleh Hizb.
Menyikapi kemungkinan-kemungkinan tersebut, Hizb sebagai parpol Islam ideologis telah mengadopsi seperangkat metode perjuangan yang dihasilkan dari irtifa’ul fikri seorang mujtahid muthlaq. Hizb sangat memahami bahwa bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang kehidupan. Jika pemahaman ini diimplementasikan dalam konteks kebangkitan masyarakat, maka sebagaimana yang tertulis dalam kitab Mafahim Hizbut Tahrir, titik sentral dakwah tergantung dari kesiapan masyarakatnya. Tempat dimana dakwah belum berhasil mengubah masyarakat dan belum menunjukkan suasana dakwah yang kondusif, tidak cocok dijadikan sebagai titik sentral, walaupun disana terdapat pengemban mabda’ Islam dalam jumlah yang banyak. Sedangkan tempat yang telah menerima fikrah dan thariqah mabda’ ini, serta kondisi masyarakatnya kondusif, juga fikrah dan thariqah tadi telah mendominasi lingkungan tsb, maka tempat itu cocok sebagai titik sentral, tanpa memperhatikan lagi jumlah pengemban mabda’ Islam di dalamnya. Dengan kata lain, pengemban dakwah akan mampu membangkitkan umat ketika Islam telah menjadi ro’yul ‘am di majal tsb, pemikiran dan perasaan umat telah mengerucut pada Islam, kesadaran politik umat telah menjadi Islam, tidak selalu dengan banyaknya agen. Terbukti seorang Mush’ab bin Umair menjadi pelopor terwujudnya opini Islam di Madinah, tentunya dengan memegang simpul-simpul umat.
Karena itu, para pengemban mabda’ tidak boleh mengukur keberhasilan dakwahnya dengan jumlah pengikutnya. Ukuran seperti ini jelas salah dan membahayakan dakwah karena akan mengalihkan perhatian para pengemban dakwah dari masyarakat ke individu-individu. Keadaan ini bisa mengakibatkan kelambanan, bahkan bisa mengakibatkan kegagalan dakwah di tempat itu. Rahasianya mengapa hal ini bisa terjadi, karena masyarakat itu tidak tersusun dari individu-individu saja. Individu adalah bagian dari kelompok masyarakat, sedangkan yang mempersatukan individu-individu dalam suatu kelompok masyarakat adalah faktor-faktor lain, yaitu berupa pemikiran, perasaan, dan aturan. Oleh karenanya, dakwah harus ditujukan untuk meluruskan pemikiran, perasaan, dan aturan hidup. Usaha memperbaiki individu dilakukan tidak lain untuk menjadikan mereka bagian dari kutlah dakwah, agents of change yang akan mengemban dakwah di masyarakat, bukan memperbaiki individu itu sendiri. Seringkali terjadi di tengah para pengemban dakwah, mereka belum mampu mengimplementasikan robithoh mabda’ dengan sempurna. Di antara mereka masih memilih-milih teman, mengikat satu sama lain dengan ikatan yang tidak berdasar pemikiran (entah kepentingan, golongan, maupun spiritual/perasaan). Bahayanya, ketika membina mad’u, mereka menjalin kedekatan secara perasaan belaka, merasa puas jika mad’u sudah bisa “cair”, melebur secara fisik, bercanda tawa, bisa mereview materi ngaji di tengah-tengah perbincangan, sudah berjilbab, banyak berinteraksi, dan ukuran-ukuran inderawi lainnya. Merekapun akhirnya mengukur kebenaran/integritas seseorang dari kepandaian komunikasinya, analisis politisnya, pengalaman-pengalamannya, figurnya, dsb, bukan keterikatannya pada hukum syara’. Dampak lebih buruknya lagi, pragmatisme ini akan menjebak mereka pada dzan-dzan yang sama sekali tidak berdasar. Cepat menjustifikasi sesuatu sesuai dengan rekaman-rekaman di benaknya, bahkan sering terjerembab pada labelling terhadap individu-individu tertentu tanpa terlebih dahulu menelaah, meng-cross check kebenarannya. Pengemban dakwah juga seringkali khawatir aktivitasnya dinilai oleh orang lain begini dan begitu, khawatir akan disalahkan, khawatir nampak kekurangannya, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lain yang bermuara pada ketakutan akan pandangan makhluk. Sehingga tak jarang ia berusaha mendistorsi kebenaran, membohongi dirinya sendiri, ingin selalu tampak tiada cacat dihadapan orang lain, menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi, menutupinya dengan aksi-aksi praktis agar tidak diketahui orang lain. Ketika ada fenomena tertentu, dia terjebak dengan pertanyaan “siapa” pelakunya, “siapa” orang itu, “siapa” yang berhasil melakukan ini dan menghasilkan itu, bukan fokus kepada apa permasalahnnya, apa yang melandasi seseorang melakukan ini. Hal tersebut menyeret dirinya pada asumsi-asumsi tak berdasar, yang membuatnya tidak mampu berempati kepada orang lain, hanya menuntut orang lain dengan target-target tinggi, menstandarkan sesuatu pada dirinya atau fakta empiris yang pernah dilalui, “aku saja bisa, kok kamu ga’ bisa sih”, atau justru memaklumi dirinya, “wajar aku begini, ga’ bisa seperti kamu, kan memang kita punya track record/masa lalu yang jauh berbeda, please jangan tuntut aku macem-macem”, atau berpikir ilmiah, “jika aku menjadi dosen, pasti dakwah ini berkembang”, “jika aku banyak ma’lumat tentang kultur mahasiswa pertanian, pasti dakwah di pertanian akan berkembang, dan sebaliknya”, padahal tidak demikian. Sampai-sampai, karena lebih percaya pada apa-apa yang diinderanya, mereka lupa dengan kekuatan Dzat Yang tidak terindera. Tentu ini sangat berbahaya bagi dakwah itu sendiri. Pragmatisme yang tidak disadari ini akan mengantarkan kita pada bahaya thobaqot (bahaya kelas), bahaya ideologis, penyakit hati, mengancam kesatuan jamaah dan tentunya menjerumuskan pengemban dakwah pada sekulerisme itu sendiri, yang pada akhirnya menjauhkan dakwah dari keberkahan dan nashrulloh. Karenanya maka, penting bagi pengemban dakwah, menjaga kemurnian (shofiyah), kejernihan (naqiyah) dan mengkristalnya (mubalwarah) fikroh Islam serta mempunyai tsawabit (prinsip), maka menjaga jama'ah dakwah harus dengan menjaga tsawabit-nya. Sebagai individu, kita harus senantiasa muhasabah diri, mengevaluasi standar khoir-syar & hasan-qobih, fokus pada penegakan qoidah dan qiyadah fikriyah, menjadikan ideologi Islam SAJA sebagai sesuatu hal yang wajib ditegakkan tanpa penyimpangan, dan tidak terjebak pada hal-hal lain di luar itu yang bisa memecah-belah jamaah. Kita juga harus proporsional dan tepat menempatkan “analisa politik” pada obyek eksternal kaum muslimin (musuh Islam) SAJA. 

MERAIH KESADARAN POLITIK ISLAM SEUTUHNYA   
Dalam kitab Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir dijelaskan bahwa kesadaran politik (al-wa’yu as-siyasiy) bukan berarti kesadaran akan situasi-situasi politik, konstelasi internasional, peristiwa-peristiwa politik, mengikuti politik internasional, atau mengikuti aktivitas-aktivitas politik. Itu semua adalah hal-hal yang melengkapi kesempurnaannya saja. Kesadaran politik tidak lain adalah pandangan terhadap dunia dengan sudut pandang khusus. Bagi kita (kaum Muslim) sudut pandang itu adalah aqidah Islam, yaitu sudut pandang Laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Inilah kesadaran politik. Maka, memandang dunia tanpa sudut pandang khusus dianggap pandangan yang dangkal dan bukan kesadaran politik. Memandang dunia hanxa pada wilayah lokal atau regional saja adalah sesuatu yang kualitasnya rendah dan bukan kesadaran politik. Kesadaran politik tidak akan sempurna kecuali dengan terpenuhinya dua unsur, yakni adanya pandangan pada dunia secara keseluruhan, dan pandangan ini bertolak dari sudut pandang khusus yang jelas batasannya, apapun sudut pandangnya, bisa berupa ideologi tertentu, pemikiran tertentu, kepentingan tertentu, atau yang lainnya.
Orang memiliki kesadaran politik akan mewajibkan dirinya untuk terjun dalam perjuangan melawan semua orientasi (arah pandang) yang bertentangan dengan orientasinya, dan melawan semua pemahaman yang bertentangan dengan pemahamannya. Pada waktu yang sama, dia terjun dalam perjuangan tersebut untuk memperkokoh pemahamannya dan menanamkan orientasinya. Dia berjalan dengan dua arah pada saat yang sama, yang tidak terpisah satu dengan lainnya dalam perjuangan, walau seutas rambut pun, karena keduanya adalah satu hal yang sama. Dia meruntuhkan dan juga menegakkan, menghancurkan dan juga membangun, memupuskan kegelapan dan juga menyalakan cahaya. Dia bagaikan “api yang membakar kerusakan, dan cahaya yang menerangi jalan petunjuk”. Dia juga akan terjun dalam upaya mengokohkan pemahaman, menanamkan orientasi, menerapkan pemikiran atas fakta, tidak melepaskan suatu peristiwa politik dari konteks situasi dan kondisinya, dan tidak pula menggunakan logika untuk menggeneralisir berbagai peristiwa politik.
Demikian pula dia akan terjun dalam perjuangan melawan semua orientasi yang lain, melawan semua kritikan yang menyerang pemahamannya tentang kehidupan, dan melawan semua pemahaman yang sudah mengakar yang muncul pada masa-masa kemunduran. Dia juga akan melawan pengaruh menyesatkan yang disebarkan oleh para musuhnya baik tentang pemikiran maupun tentang fakta, serta melawan pembatasan tujuan-tujuan yang tinggi dan target-target yang jauh dengan tujuan-tujuan parsial dan target-target kekinian.
Jadi, dia berjuang dalam dua front, yaitu internal (kontekstualisasi & integritas diri) dan eksternal (siyasiy); berjuang dengan dua arah, yaitu menghancurkan dan membangun; serta beraktivitas dalam dua bidang, yaitu politik dan pemikiran. Ringkasnya, dia terjun dalam kancah kehidupan pada medan yang paling luhur dan paling tinggi.
Maka dari itu, adalah suatu kepastian bahwa orang yang memiliki kesadaran politik akan berbenturan dengan berbagai problem pada saat dia bersinggungan dengan fakta, manusia, dan juga problem-problem kehidupan. Tidak ada bedanya antara wilayah regional internal dengan wilayah dunia internasional. Dalam benturan ini akan terlihat kekuatan yang akan menjadikan risalah yang diembannya dan sudut pandang khusus yang digunakannya untuk memandang dunia —sesuai pemahaman yang dia adopsi— sebagai asas dan juga pemutus. Inilah tujuan yang hendak dia capai dan target yang hendak dia wujudkan dengan sungguh-sungguh.
Hanya saja, karena dia berpegang teguh dengan sudut pandang yang khusus, juga karena adanya perasaan dan kecenderungan tertentu terhadap sudut pandang itu, baik kecenderungan itu muncul secara alamiah maupun ideologis, maka dikhawatirkan –jika dia tidak menyadari— dia akan memberi warna atas realitas dengan warna yang dia inginkan, akan menafsirkan pemikiran sesuai dengan yang dia kehendaki, atau akan memahami berita sesuai dengan kesimpulan yang ingin dia peroleh. Karenanya, dia wajib berhati-hati dari dominasi kecenderungannya terhadap berbagai pendapat dan berita. Sebab, kecintaan dirinya pada sesuatu, atau pada sebuah partai, atau pada sebuah ideologi, mungkin saja mengakibatkan dia menafsirkan suatu pendapat sebagai benar padahal dusta, atau mengkhayalkannya sebagai dusta padahal benar. Karena itu, seseorang yang berkesadaran politik harus mempunyai kejelasan akan perkataan yang dia ucapkan atau aktivitas yang dia lakukan.
Adapun yang berkaitan dengan fakta, baik berupa benda-benda maupun kejadian-kejadian, dia harus memahaminya secara inderawi dan menginderanya secara logis, namun harus tetap objektif sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang dia kehendaki. Adapun yang berkaitan dengan pemikiran, dia harus memahaminya secara objektif lalu memindahkan dari benaknya ke luar benak dan melihat dengan mata hatinya fakta yang dia gambarkan mengenai pemikiran itu, lalu memahami pemikiran itu sesuai dengan pandangannya terhadap fakta yang ditunjukkan pemikiran, secara objektif sesuai dengan apa yang ada, bukan sesuai dengan apa yang dikehendakinya.
Memang benar terkadang suatu ungkapan bisa berupa ungkapan metaforis (majas), alegoris (perumpamaan), atau sindiran (kinayah). Suatu ungkapan kadang berupa sebuah kalimat yang maknanya terdapat dalam kalimat itu, bukan terdapat dalam kata-kata yang menyusunnya. Namun semua itu tidak menghalanginya untuk memindahkan ungkapan itu ke luar benak, dan melihat fakta yang ditunjukkan oleh ungkapan itu sesuai dengan makna bahasa dan apa yang dikatakan oleh ahli bahasa tentang maknanya. Maka, orang yang berkesadaran politik harus tetap berpegang pada kebenaran (fakta, sesuatu yang benar-benar terjadi), akan tetapi sesuai dengan cara pandang yang dia ambil dengan pasti dan yakin. Maksudnya, orang yang berkesadaran politik bukan berarti menafikan fakta/ma’lumat sabiqoh, namun memposisikan fakta itu sebagai objek yang harus dihukumi, tidak diambil sebagai sumber kebenaran. Dia melihat fakta secara objektif, tetapi sesuai dengan pandangannya yang bersifat inderawi maupun pemikiran. Dengan demikian sempurnalah kesadarannya karena telah terpenuhi dalam dirinya sarana-sarana untuk menelaah segala sesuatu. Hanya saja, asas bagi segala sesuatu yang ada pada dirinya baik pandangan, pemahaman, penginderaan, maupun pengertian, harus tetap merupakan pandangan pada dunia dengan sudut pandang khusus.
Walhasil, seorang pengemban dakwah yang memiliki kesadaran politik Islam yang utuh tidak mungkin akan terjebak Pragmatisme dengan segala bentuknya. Ia tidak akan menjadikan empiri (pengalaman) dan yurisprudensi (aturan-aturan terdahulu) sebagai standar penentu keberhasilan; tidak akan mudah menilai sesuatu dari apa yang diinderanya tanpa menelaahnya terlebih dahulu dan abai terhadap klarifikasi (tabayyun); tidak cepat puas dengan pencapaian-pencapaian kuantitatif jangka pendek yang abai pada proses. Sebaliknya, ia akan berangkat dengan sebuah penyandaran diri sepenuhnya kepada Allah, berpikir jangka panjang terkait apa-apa yang menguatkan dakwah sehingga memiliki respon cepat terhadap peluang emas dalam dakwah. Ia meletakkan dunia tidak dalam hatinya, tetapi dalam genggaman tangannya. Ketundukan ia sepenuhnya adalah kepada syara’, bukan pada ilmunya, bukan pada akalnya, dan bukan kepada personal/profil ataupun jamaah dakwah secara serta merta tanpa kesadaran iman dan kesadaran tanggungjawab sistem. Sadar diri, sadar posisi, sadar kondisi. Sehingga kita tidaj tergolong orang-orang yang menebar racun pragmatisme yang justru menghadang reideologisasi Islam, menghambat turunnya nashrullah. Na’udzubillahi min dzalik. 
Muslim tidak meyakini apa yang mereka lihat, namun mereka melihat apa yang telah mereka yakini (Muhammad al-Fatih). Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber Pemikiran:
·      Al-Qur’an Al-Kariim
·      Nidzomul Islam
·      At-Takattul al-Hizbiy
·      Mafahim Hizbut Tahrir
·      Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir
·      Dukhul Mujtama’
·      Al-Wa’ie edisi Desember 2011
·      Muhammad Al-Fatih 1453












1 komentar:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    BalasHapus